Kondisi terakhir Dermaga PPN Bengkunan Pesisir Barat yang kini terbengkalai. ist


BANDARLAMPUNG (PeNa)- Masyarakat Transparansi Lampung (MaTaLa) resmi melaporkan dugaan adanya penyalahgunaan anggaran dalam pelaksanaan pembangunan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) di Kecamatan Bengkunat, Belimbing, Lampung Barat. Pelabuhan yang diperkirakan telah menelan dana sebesar Rp6 miliar lebih tersebut saat ini dalam kondisi rusak parah dan terbengkalai.
Berdasarkan data MaTaLa, program tersebut merupakan program pemerintah pusat sejak tahun 2009 dengan metode kegiatan tahun jamak hingga tahun 2015. Dalam pelaksanaannya, pembangunan tidak hanya pada sektor dermaga sebagai pendukung produksi perikanan nelayan setempat tapi juga terdapat kegiatan pendukung lainnya seperti pembangunan break water.
“Pelaksanaannya yang sejak awal kuang pengawasan sehingga ditengah perjalanan kegiatan tidak dapat diteruskan karena kondisinya bangunan awal tidak lagi mendukung,” kata Direktur MaTaLa, Charles Alizie.
Dijelaskan, dengan kondisi yang ada sekarang negara telah dirugikan secara keseluruhan dari nilai total dana yang telah diinvestasikan dari anggaran negara.
“Total lost. Tidak dapat difungsikan dan tidak dapat dilanjutkan. Kondisinya tidak hanya sudah terkikis, tapi jika dilanjutkan tahanan awal bangunan dipastikan tidak akan mempu menahan beban baru. Lagi pula dari pemerintah sepertinya tidak ada niatan melanjutkan pembangunan,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, MaTaLa melalui divisi investigasi akan melayangkan laporan kepada Kejaksaan Tinggi Lampung. “Ya kami akan tindak lanjuti, karena dari beberapa pemberitaan viral memang permasalahan ini pernah timbul ditahun 2016 lalu,” tegasnya.
Sedikit catatan yang diperoleh redaksi, pada tahun 2009-2015 DKP Provinsi Lampung membangun Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) di Kecamatan Bengkunat, Belimbing, Lampung Barat.
1. Pada Tahun 2009 membangun TPI dan 4 unit gedung kantor yang pada saat peninjauan semua dalam kondisi rusak berat
2. Pada Tahun 2010 membangun pondasi guna persiapan pembangunan dermaga yang saat ini kondisinya runtuh dan rusak berat.
3. Pada Tahun 2011-2012 membangun dermaga, bangunan dapat dipergunakan tapi disisi kanan dan kiri dermaga dari awal tidak selesai dibangun.
4. Pada Tahun 2013-2015 membangun break water disisi kanan dan kiri dermaga. Disisi kiri dermaga sepanjang kurang lebih 90 meter, tingi 3 meter, lebar atas 6,5 meter , lebar bawah 23 meter dengan kaki-kaki setinggi 1 meter dan sisi kemiringan 8 meter dibangun masing-masing;
a. Tahun 2013 sepanjang 50 meter dengan masa waktu pengerjaan selama 1 bulan
b. Tahun 2014 sepanjang 20 meter dengan waktu pengerjaan 20 hari
c. Tahun 2015 sepanjang 20 meter dengan masa waktu pengerjaan selama 20 hari
Bahwa pelaksanaan pembangunan dilaksanakan oleh PT Haga Unggul Lestari dengan anggaran ditahun 2014 sebesar Rp3,8 miliar dan tahuan 2016 sebesar Ro3,7 miliar dengan kegiatan belanja gedung dan bangunan pembangunan break water. Berdasarkan penelusuran tim, pelaksaknaan dilakukan oleh Saudara Abd dengan alamat Kemiling Bandar Lampung dan pengawas lapangan berinisial Us.
Dalam rencana Pembangunan Pelabuhan Nusantara itu, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat telah membebaskan lahan seluas 33 hektare (ha). Kemudian bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung pada tahun 2007 melalui anggaran APBD dan APBN.
Pematangan lahan dalam rangka pembangunan pelabuhan tersebut perikanan melalui "land clearing" (pembersihan dan pematangan lahan) yang di anggarkan pada tahun 2007 sekitar Rp800 juta, dan telah rampung dikerjakan. Pembangunan PPN tersebut diperkirakan akan menelan dana sebesar Rp60 miliar lebih yang rencananya akan diselesaikan dengan pengerjaan tahun jamak. 

Garis pantai yang terdapat di Pesisir Lampung Barat berada di sepanjang 210 km atau merupakan 19 persen dari panjang garis pantai Provinsi Lampung, yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia.
Kewenangan Kabupaten sejauh nol sampai empat mil (168.941 ha), potensi penangkapan ikan mencapai 142.197 ton/tahun dengan total produksi mencapai 9.535 ton.
Potensi ikan bernilai ekonomis tinggi diantaranya tuna, setuhuk (blue marlin) dan lobster. Karakteristik produk perikanan bersifat mudah dan cepat membusuk (hight perishable) sehingga memerlukan penanganan yang cepat (handling).